Monday, August 07, 2006

Jeruk Makan Jeruk

Ada seorang kawan bertanya betulkah makan makanan berjiwa maka akan
mempengaruhi jiwa manusia yang memakannya? Contohnya, yang makan daging
harimau akan berjiwa harimau, yang makan ular akan berjiwa ular?

Pertanyaan diatas kalau meminjam istilah salah satu iklan di televisi,
ibarat seperti siapa yang makan jeruk maka menjadi jeruk atau “jeruk makan
jeruk”.

Dalam era informatika seperti sekarang, ada satu formula yang dijadikan
sebagai acuan untuk manajemen bisnis. Dengan input yang baik maka akan
menghasilkan output yang baik pula. Sampah yang masuk maka akan
menghasilkan sampah yang keluar (garbage in = garbage out [GIGO], atau ada
juga peribahasa latin “mensana in corpore sana” yang artinya dalam tubuh
yang sehat terhadap jiwa yang sehat pula.

Sesuatu yang berhubungan dengan makanan biasanya diatur oleh menu gizi.
Kata gizi berasal dari bahasa arab “ghidzdzi” dan sekarang telah
diadaptasi menjadi bahasa Indonesia. Gizi artinya sesuatu yang berhubungan
dengan makanan. Dalam pengertian kesehatan , gizi adalah zat makanan atau
minuman yang diperlukan untuk pertumbuhan.

Tuhan menciptakan tubuh yang memerlukan makanan. Tuhan juga menciptakan
syahwat (rasa ingin) untuk menyantap makanan. Selain itu Tuhan juga
menciptakan organ-organ yang dapat mengolah makanan di dalam tubuh,
mengatur fungsi makanan untuk anggota tubuh, serta mengganti sel-sel tubuh
yang rusak, seperti seorang pekerja yang ditugasi memperbaiki apa yang
rusak dan menambal apa yang bocor. Tuhan menciptakan itu agar tubuh manusia
terhidar dari sakit dan kehancuran.

Kesehatan badan terjamin apa bila asupannya juga baik, artinya formula GIGO
juga berlaku disini, sehingga diperlukan aturan dalam makanan dan minuman.

Makanan yang mengandung hidrat arang misalnya beras, gandum dan kurma, yang
mengandung putih telur misalnya telur, susu, daging, ikan. Yang mengandung
vitamin A seperti ikan, daging, susu, buah-buahan, sayur mayur, yang
mengandung vitamin D misalnya sinar matahari dan beberpa makanan seperti
minyak ikan dan yang mengandung vitamin K misalnya sayur-sayuran.

Sebelum membahas jawaban atas pertanyaan apakah makan-makanan mahluk yang
berjiwa akan menjiwai mahluk yang memakannya? Sebaiknya terlebih dahulu
kita bahas tentang jiwa maupun roh yang menemani raga manusia dan binatang,
agar konsepsinya sama.

Persamaan manusia dengan binatang adalah selain memiliki tubuh juga
memiliki jiwa dan roh. Hanya saja antara jiwa dan roh seringkali dirancukan
menjadi satu kesatuan, sehingga pada umumnya orang melihat hanya dua bagian
yang signifikan.

Agar mudah memahaminya, sebaiknya kita mendefinisikan dahulu beda antara
jiwa dan roh. Biasanya kata roh dihubungkan dengan dzat ilahiah, yaitu
sesuatu yang menyebabkan munculnya kehidupan pada benda yang tadinya benda
mati sekaligus menularkan sifat-sifat ketuhanan kepadanya, contoh kata roh
yang melekat atau menyifati malaikat seperti roh kudus. Roh juga bisa
menggambarkan fungsi kehidupan.

Paling tidak ada tiga hal yang membedakan roh dan jiwa, yaitu karena
substansinya, karena fungsinya dan karena sifatnya.

Jadi dengan roh itu manusia menjadi memiliki kehendak, dengan roh pula
manusia menjadi bijaksana, berilmu pengetahuan, memiliki perasaan cinta dan
kasih, berbagai sifat ketuhanan tentunya dalam skala manusia. Roh adalah
dzat yang menjadi media penyampai Sifat-sifat ketuhanan di dalam kehidupan
manusia.

Bagaimana dengan jiwa? Tuhan menciptakan badan manusia dari material tanah,
kemudian meniupkan sebagian Roh-Nya kepada badan itu. Maka hiduplah ‘bahan
organic’ terbuat dari tanah menjadi badan manusia, akibat bersatunya badan
dan roh maka muncul jiwa sebagai interaksi antara roh dengan badan.

Jiwa adalah akibat. Bukan penyebab. Penyebab utama adalah masuknya roh ke
dalam badan, kemudian muncullah jiwa sebagai interaksi antara roh dan badan.

Jiwa ini yang bergerak dan kualitasnya berubah terus diantara kutub cahaya
– sang roh – kutub kegelapan – badan manusia yang menjadi tanah. Antara
kutub malaikat dan kutub setan.

Didalam badan yang sudah ada ruhnya itu jiwa berkembang mencapai bentuk
yang tertinggi. Ada dua kutub dalam diri kita yang saling tarik menarik,
yaitu antara roh dan badan.

Roh mewakili sifat malaikat yang penuh dengan ketaatan, keikhlasan, akal
sehat, kesucian, cinta kasih dan kesempurnaan. Sedangkan badan mewakili
sifat duniawi, kehidupan materialistic, keserakahan, kemarahan dan tipu
daya kehidupan lainnya.

Walaupun roh dan jiwa itu berbeda tetapi banyak kalangan berpendapat bahwa
roh dan jiwa itu sama.

Untuk memudahkan pengertian contoh jiwa dan raga pada mahluk hidup adalah
seperti pengendara dengan mobil. Pengendara adalah jiwa sementara raga
adalah mobilnya. Sehingga bisa diibaratkan jiwa dan raga adalah bagai mobil
dan pengendara yang melaju di jalan raya kehidupan. Mobil adalah benda mati
pengendara adalah mahluk hidup yang punya kehendak. Contoh diatas
kelihatan janggal karena mahluk hidup itu sendiri adalah satu kesatuan
system, seperti sekeping mata uang memiliki dua sisi yaitu gabungan jiwa
dan raga sehingga tidak bisa dipisah-pisahkan, pemisahan antara jiwa dan
raga baru terjadi setelah kematian. Sang jiwa kembali ke hadirat Tuhan Yang
Maha Esa dan raga atau badan kembali ke bumi untuk kembali di urai menjadi
tanah. Demikian juga hewan yang dipotong dan dijadikan sebagai santapan
manusia, setelah dimasak dan dimakan, dan diproses oleh tubuh manusia, dan
sebagaian nutrisinya diserap tubuh dan yang ampasnya terbuang bersama
kotoran dan pada akhirnya juga kembali ke tanah.

Seiring berjalannya waktu ilmu pengetahuan berkembang, pada abad 21 ini
telah ditemukan bahwa di dalam tubuh kita ada unit terkecil. Unit terkecil
itu disebut sel. Sel bisa berkembang biak, bertumbuh, regenerasi dan
memenuhi kebutuhannya secara otomatis. Seluruh organ tubuh manusia
terbangun dari sekumpulan sel. Ada sel darah, sel otot, sel tulang, sel
otak, sel jantung, sel liver dan sebagainya.

Sel tersebut memiliki mekanisme perlindungan terhadap zat-zat yang
berbahaya bagi kelangsungan hidup sel. Sel harus memproduksi protein untuk
kelangsungan hidupnya. Cara produksi sel itu seperti pabrik kimia.
Pertama-tama sel menerima bahan mentah dari darah. Bahan mentah itu berasal
dari makanan yang sudah dicerna, diserap oleh darah kemudian diedarkan ke
seluruh sel-sel tubuh. Selain sari-sari makanan, sel juga menerima pasokan
bahan mantah berupa oksigen yang berasal dari pernafasan paru-paru. Sel
membutuhkan pecahan-pecahan bahan mentah yang merupakan kombinasi air,
gula, asam amino, oksigen, Na, Cl, K, Fe dan sebagainya tergantung dari
jenis selnya. Setelah bahan dasar tersebut tersedia, maka diproduksi
protein oleh sel dalam bentuk kombinasi atom-atom organic.

Protein adalah zat yang sangat dominan di dalam tubuh mahluk hidup,
termasuk manusia. Seperlima tubuh manusia adalah protein dan bagian
terbesar adalah air.

Di dalam inti sel ada perintah-perintah yang menyuruh untuk membentuk
protein agar sesuai dengan kebutuhan selnya. Perintah itu berbentuk
kode-kode protein, yang disebut Deoxyribo Nucleic Acid (DNA). Bahan DNA ini
merupakan kode genetika didalam untai genetika. DNA merupakan perintah
yang akan diterjemahkan oleh jenis protein lain yang disebut Ribonucleic
Acid (RNA). Berdasarkan perintah itulah ‘mesin produksi’ sel membuat
protein-protein tertentu.

Demikian rumit pemrosesannya, proses produksi ini berlangsung di dalam sel
tersebut. Dan prosesnya di luar kesadaran mahluk hidup. Tentunya semuanya
ini bisa berlangsung oleh karena kuasa oleh Dzat Yang Maha Cerdas, yang
telah dengan sengaja menciptakan sekaligus mengendalikan mahluknya.

Lalu bagaimana dengan binatang, apakah dia juga seperti manusia memiliki
ruh, jiwa dan raga?

Binatang diciptakan tidak sesempurna manusia. Binatang hanya memperoleh
sebagian kecil dari sifat-sifatNya, umpamanya sifat hidup. Potensi binatang
yang ditimbulkan berupa insting tidak sampai ke akal budi. Sifat-sifat
Tuhan tidak mengimbas secara sempurna tidak seperti manusia, oleh karenanya
tidak bisa disebut Roh-Nya. Demikian pula tumbuhan, potensi kehidupan
rohnya hanya mengimbas sebagian kecil saja. Kesempurnaannya jauh dibawah
binatang.

Roh bekerja dengan skala yang lebih luas dari jiwa. Wilayah cakupannya
meluas sampai ke jaringan infrastruktur tubuh manusia, bahkan samapi ke
unit tekecil yaitu sel. Sedangkan jiwa bekerja adalah ‘program
aplikasi’,jika ruh tidak berfungsi, jiwa juga tidak berfungsi. Tapi
sebaliknya, kalau jiwa tidak bekerja roh masih bisa bekerja.
Jiwa memiliki pengaruh atas badan, tapi tidak mempengaruhi terhadap roh.
Roh adalah yang memiliki pengaruh paling besar, karena ia berpengaruh
kepada kerja jiwa dan badan sekaligus. Jika roh tidak berfungsi, maka badan
dan jiwa tidak berfungsi. Keduanya menjadi tidak hidup orang menyebutnya mati.

Pengaruh jiwa terhadap tubuh itu tidak mutlak sebagaimana roh. Ketika jiwa
kuat, maka badan akan ikut kuat, sebaliknya jika jiwa kita lemah maka badan
kita juga ikut lemah. Tetapi melemahnya badan itu tidak sampai nol, yaitu
sebatas titik dasar yang menjadi wilayah kekuasaan roh.

Misalnya, jiwa orang yang melemah menyebabkan seseorang menjadi pingsan.
Ketika pingsan itu pengaruh jiwa menjadi nol, tetapi badan tidak mati,
karena masih ada fungsi roh yang bekerja pada badan.

Pusat pengendalian jiwa manusia berpusat pada otak, sehingga kalau sel
otaknya mengalami kerusakan maka rusak pula jiwanya. Sebagaimana roh
pengaruh jiwa juga menyebar keseluruh penjuru badan kita. Hanya saja lebih
dominan di wilayah sadar, sementara kalau roh sampai ke wilayah bawah
sadar. Ketika berada dalam kondisi sadar, jiwa berpengaruh terhadap
aktifitas kita. Tetapi begitu kesadaran kita hilang, maka kendalinya
bergeser ke peranan roh. Jiwa masih tetap ‘hidup’, badan juga ‘hidup’
tetapi keduanya tidak saling mempengaruhi satu sama lain.
-o0o-

Dari uraian tentang jiwa dan roh diatas, saya menyimpulkan bahwa akibat
langsung dan pengaruh makanan terhadap sifat manusia tidak bersifat
revolusioner, umpamanya makan daging harimau maka bertabiat seperti
harimau. Artinya memahami menurunnya suatu sifat itu adalah bukan arti
literal/eksoterik (letter-lijk) tertapi secara falsafi atau essoterik
berupa kajian yang mendalam.

Menurunnya suatu genetika, dalam pelajaran biologi itu karena kromosom. Di
dalam kromosom ada gen. Gen ini yang menurun dari orang tua ke anak karena
kesamaan genetika. Jadi tidak bisa disamakan umpamanya makan harimau akan
bertabiat seperti harimau. Hanya saja perilaku makan makanan yang
menyimpang secara particular memungkinkan memiliki jiwa menyimpang juga,
efek ini didapat dengan cara tidak langsung, dan bersifat psychologis.

Secara realitas makan daging memungkinkan tubuh mendapatkan kebutuhan akan
nutrisi yang terkandung dalam daging itu untuk dijadikan pada protein atau
energi. Protein didalam tubuh manusia ada seperlima dari berat tubuh.
Separohnya terdapat di otot, seperlimanya terdapat pada tulang,
sepersepuhnya pada kulit dan selebihnya disimpan pada jaringan lain. Semua
enzim , berbagai hormon, pengangkut zat gizi dan darah adalah protein, dan
semuanya itu diproduksi oleh sel-sel didalam tubuh kita.

Belajar dari makan makanan tubuh yang tersebut diatas, bisa ditarik hikmah
sebagai berikut :

Kalau makanan badan adalah nasi, lauk dan sebagainya, maka makanan jiwa
adalah makna-makna informasi. Ada makanan-makanan yang merugikan badan,
adapula informasi-informasi yang merugikan jiwa. Ada makanan yang
menyehatkan badan, ada juga informasi yang meningkatkan kualitas jiwa.

Makna-makna hikmah yang terkandung di dalam kitab suci adalah makanan jiwa
yang paling bergizi. Semakin lama merenungi kandungannya semakin banyak
yang terserap oleh jiwanya, maka makin bersih jiwa itu, dan semakin
sempurna kualitasnya.

Makanan begitu banyak di muka bumi, pilihan begitu banyak maka yang baik
adalah makan makanan sehat bergizi dan yang membawa berkah.

Semoga bisa membantu memahaminya.

No comments:

Post a Comment