Monday, August 07, 2006

Jeruk Makan Jeruk

Ada seorang kawan bertanya betulkah makan makanan berjiwa maka akan
mempengaruhi jiwa manusia yang memakannya? Contohnya, yang makan daging
harimau akan berjiwa harimau, yang makan ular akan berjiwa ular?

Pertanyaan diatas kalau meminjam istilah salah satu iklan di televisi,
ibarat seperti siapa yang makan jeruk maka menjadi jeruk atau “jeruk makan
jeruk”.

Dalam era informatika seperti sekarang, ada satu formula yang dijadikan
sebagai acuan untuk manajemen bisnis. Dengan input yang baik maka akan
menghasilkan output yang baik pula. Sampah yang masuk maka akan
menghasilkan sampah yang keluar (garbage in = garbage out [GIGO], atau ada
juga peribahasa latin “mensana in corpore sana” yang artinya dalam tubuh
yang sehat terhadap jiwa yang sehat pula.

Sesuatu yang berhubungan dengan makanan biasanya diatur oleh menu gizi.
Kata gizi berasal dari bahasa arab “ghidzdzi” dan sekarang telah
diadaptasi menjadi bahasa Indonesia. Gizi artinya sesuatu yang berhubungan
dengan makanan. Dalam pengertian kesehatan , gizi adalah zat makanan atau
minuman yang diperlukan untuk pertumbuhan.

Tuhan menciptakan tubuh yang memerlukan makanan. Tuhan juga menciptakan
syahwat (rasa ingin) untuk menyantap makanan. Selain itu Tuhan juga
menciptakan organ-organ yang dapat mengolah makanan di dalam tubuh,
mengatur fungsi makanan untuk anggota tubuh, serta mengganti sel-sel tubuh
yang rusak, seperti seorang pekerja yang ditugasi memperbaiki apa yang
rusak dan menambal apa yang bocor. Tuhan menciptakan itu agar tubuh manusia
terhidar dari sakit dan kehancuran.

Kesehatan badan terjamin apa bila asupannya juga baik, artinya formula GIGO
juga berlaku disini, sehingga diperlukan aturan dalam makanan dan minuman.

Makanan yang mengandung hidrat arang misalnya beras, gandum dan kurma, yang
mengandung putih telur misalnya telur, susu, daging, ikan. Yang mengandung
vitamin A seperti ikan, daging, susu, buah-buahan, sayur mayur, yang
mengandung vitamin D misalnya sinar matahari dan beberpa makanan seperti
minyak ikan dan yang mengandung vitamin K misalnya sayur-sayuran.

Sebelum membahas jawaban atas pertanyaan apakah makan-makanan mahluk yang
berjiwa akan menjiwai mahluk yang memakannya? Sebaiknya terlebih dahulu
kita bahas tentang jiwa maupun roh yang menemani raga manusia dan binatang,
agar konsepsinya sama.

Persamaan manusia dengan binatang adalah selain memiliki tubuh juga
memiliki jiwa dan roh. Hanya saja antara jiwa dan roh seringkali dirancukan
menjadi satu kesatuan, sehingga pada umumnya orang melihat hanya dua bagian
yang signifikan.

Agar mudah memahaminya, sebaiknya kita mendefinisikan dahulu beda antara
jiwa dan roh. Biasanya kata roh dihubungkan dengan dzat ilahiah, yaitu
sesuatu yang menyebabkan munculnya kehidupan pada benda yang tadinya benda
mati sekaligus menularkan sifat-sifat ketuhanan kepadanya, contoh kata roh
yang melekat atau menyifati malaikat seperti roh kudus. Roh juga bisa
menggambarkan fungsi kehidupan.

Paling tidak ada tiga hal yang membedakan roh dan jiwa, yaitu karena
substansinya, karena fungsinya dan karena sifatnya.

Jadi dengan roh itu manusia menjadi memiliki kehendak, dengan roh pula
manusia menjadi bijaksana, berilmu pengetahuan, memiliki perasaan cinta dan
kasih, berbagai sifat ketuhanan tentunya dalam skala manusia. Roh adalah
dzat yang menjadi media penyampai Sifat-sifat ketuhanan di dalam kehidupan
manusia.

Bagaimana dengan jiwa? Tuhan menciptakan badan manusia dari material tanah,
kemudian meniupkan sebagian Roh-Nya kepada badan itu. Maka hiduplah ‘bahan
organic’ terbuat dari tanah menjadi badan manusia, akibat bersatunya badan
dan roh maka muncul jiwa sebagai interaksi antara roh dengan badan.

Jiwa adalah akibat. Bukan penyebab. Penyebab utama adalah masuknya roh ke
dalam badan, kemudian muncullah jiwa sebagai interaksi antara roh dan badan.

Jiwa ini yang bergerak dan kualitasnya berubah terus diantara kutub cahaya
– sang roh – kutub kegelapan – badan manusia yang menjadi tanah. Antara
kutub malaikat dan kutub setan.

Didalam badan yang sudah ada ruhnya itu jiwa berkembang mencapai bentuk
yang tertinggi. Ada dua kutub dalam diri kita yang saling tarik menarik,
yaitu antara roh dan badan.

Roh mewakili sifat malaikat yang penuh dengan ketaatan, keikhlasan, akal
sehat, kesucian, cinta kasih dan kesempurnaan. Sedangkan badan mewakili
sifat duniawi, kehidupan materialistic, keserakahan, kemarahan dan tipu
daya kehidupan lainnya.

Walaupun roh dan jiwa itu berbeda tetapi banyak kalangan berpendapat bahwa
roh dan jiwa itu sama.

Untuk memudahkan pengertian contoh jiwa dan raga pada mahluk hidup adalah
seperti pengendara dengan mobil. Pengendara adalah jiwa sementara raga
adalah mobilnya. Sehingga bisa diibaratkan jiwa dan raga adalah bagai mobil
dan pengendara yang melaju di jalan raya kehidupan. Mobil adalah benda mati
pengendara adalah mahluk hidup yang punya kehendak. Contoh diatas
kelihatan janggal karena mahluk hidup itu sendiri adalah satu kesatuan
system, seperti sekeping mata uang memiliki dua sisi yaitu gabungan jiwa
dan raga sehingga tidak bisa dipisah-pisahkan, pemisahan antara jiwa dan
raga baru terjadi setelah kematian. Sang jiwa kembali ke hadirat Tuhan Yang
Maha Esa dan raga atau badan kembali ke bumi untuk kembali di urai menjadi
tanah. Demikian juga hewan yang dipotong dan dijadikan sebagai santapan
manusia, setelah dimasak dan dimakan, dan diproses oleh tubuh manusia, dan
sebagaian nutrisinya diserap tubuh dan yang ampasnya terbuang bersama
kotoran dan pada akhirnya juga kembali ke tanah.

Seiring berjalannya waktu ilmu pengetahuan berkembang, pada abad 21 ini
telah ditemukan bahwa di dalam tubuh kita ada unit terkecil. Unit terkecil
itu disebut sel. Sel bisa berkembang biak, bertumbuh, regenerasi dan
memenuhi kebutuhannya secara otomatis. Seluruh organ tubuh manusia
terbangun dari sekumpulan sel. Ada sel darah, sel otot, sel tulang, sel
otak, sel jantung, sel liver dan sebagainya.

Sel tersebut memiliki mekanisme perlindungan terhadap zat-zat yang
berbahaya bagi kelangsungan hidup sel. Sel harus memproduksi protein untuk
kelangsungan hidupnya. Cara produksi sel itu seperti pabrik kimia.
Pertama-tama sel menerima bahan mentah dari darah. Bahan mentah itu berasal
dari makanan yang sudah dicerna, diserap oleh darah kemudian diedarkan ke
seluruh sel-sel tubuh. Selain sari-sari makanan, sel juga menerima pasokan
bahan mantah berupa oksigen yang berasal dari pernafasan paru-paru. Sel
membutuhkan pecahan-pecahan bahan mentah yang merupakan kombinasi air,
gula, asam amino, oksigen, Na, Cl, K, Fe dan sebagainya tergantung dari
jenis selnya. Setelah bahan dasar tersebut tersedia, maka diproduksi
protein oleh sel dalam bentuk kombinasi atom-atom organic.

Protein adalah zat yang sangat dominan di dalam tubuh mahluk hidup,
termasuk manusia. Seperlima tubuh manusia adalah protein dan bagian
terbesar adalah air.

Di dalam inti sel ada perintah-perintah yang menyuruh untuk membentuk
protein agar sesuai dengan kebutuhan selnya. Perintah itu berbentuk
kode-kode protein, yang disebut Deoxyribo Nucleic Acid (DNA). Bahan DNA ini
merupakan kode genetika didalam untai genetika. DNA merupakan perintah
yang akan diterjemahkan oleh jenis protein lain yang disebut Ribonucleic
Acid (RNA). Berdasarkan perintah itulah ‘mesin produksi’ sel membuat
protein-protein tertentu.

Demikian rumit pemrosesannya, proses produksi ini berlangsung di dalam sel
tersebut. Dan prosesnya di luar kesadaran mahluk hidup. Tentunya semuanya
ini bisa berlangsung oleh karena kuasa oleh Dzat Yang Maha Cerdas, yang
telah dengan sengaja menciptakan sekaligus mengendalikan mahluknya.

Lalu bagaimana dengan binatang, apakah dia juga seperti manusia memiliki
ruh, jiwa dan raga?

Binatang diciptakan tidak sesempurna manusia. Binatang hanya memperoleh
sebagian kecil dari sifat-sifatNya, umpamanya sifat hidup. Potensi binatang
yang ditimbulkan berupa insting tidak sampai ke akal budi. Sifat-sifat
Tuhan tidak mengimbas secara sempurna tidak seperti manusia, oleh karenanya
tidak bisa disebut Roh-Nya. Demikian pula tumbuhan, potensi kehidupan
rohnya hanya mengimbas sebagian kecil saja. Kesempurnaannya jauh dibawah
binatang.

Roh bekerja dengan skala yang lebih luas dari jiwa. Wilayah cakupannya
meluas sampai ke jaringan infrastruktur tubuh manusia, bahkan samapi ke
unit tekecil yaitu sel. Sedangkan jiwa bekerja adalah ‘program
aplikasi’,jika ruh tidak berfungsi, jiwa juga tidak berfungsi. Tapi
sebaliknya, kalau jiwa tidak bekerja roh masih bisa bekerja.
Jiwa memiliki pengaruh atas badan, tapi tidak mempengaruhi terhadap roh.
Roh adalah yang memiliki pengaruh paling besar, karena ia berpengaruh
kepada kerja jiwa dan badan sekaligus. Jika roh tidak berfungsi, maka badan
dan jiwa tidak berfungsi. Keduanya menjadi tidak hidup orang menyebutnya mati.

Pengaruh jiwa terhadap tubuh itu tidak mutlak sebagaimana roh. Ketika jiwa
kuat, maka badan akan ikut kuat, sebaliknya jika jiwa kita lemah maka badan
kita juga ikut lemah. Tetapi melemahnya badan itu tidak sampai nol, yaitu
sebatas titik dasar yang menjadi wilayah kekuasaan roh.

Misalnya, jiwa orang yang melemah menyebabkan seseorang menjadi pingsan.
Ketika pingsan itu pengaruh jiwa menjadi nol, tetapi badan tidak mati,
karena masih ada fungsi roh yang bekerja pada badan.

Pusat pengendalian jiwa manusia berpusat pada otak, sehingga kalau sel
otaknya mengalami kerusakan maka rusak pula jiwanya. Sebagaimana roh
pengaruh jiwa juga menyebar keseluruh penjuru badan kita. Hanya saja lebih
dominan di wilayah sadar, sementara kalau roh sampai ke wilayah bawah
sadar. Ketika berada dalam kondisi sadar, jiwa berpengaruh terhadap
aktifitas kita. Tetapi begitu kesadaran kita hilang, maka kendalinya
bergeser ke peranan roh. Jiwa masih tetap ‘hidup’, badan juga ‘hidup’
tetapi keduanya tidak saling mempengaruhi satu sama lain.
-o0o-

Dari uraian tentang jiwa dan roh diatas, saya menyimpulkan bahwa akibat
langsung dan pengaruh makanan terhadap sifat manusia tidak bersifat
revolusioner, umpamanya makan daging harimau maka bertabiat seperti
harimau. Artinya memahami menurunnya suatu sifat itu adalah bukan arti
literal/eksoterik (letter-lijk) tertapi secara falsafi atau essoterik
berupa kajian yang mendalam.

Menurunnya suatu genetika, dalam pelajaran biologi itu karena kromosom. Di
dalam kromosom ada gen. Gen ini yang menurun dari orang tua ke anak karena
kesamaan genetika. Jadi tidak bisa disamakan umpamanya makan harimau akan
bertabiat seperti harimau. Hanya saja perilaku makan makanan yang
menyimpang secara particular memungkinkan memiliki jiwa menyimpang juga,
efek ini didapat dengan cara tidak langsung, dan bersifat psychologis.

Secara realitas makan daging memungkinkan tubuh mendapatkan kebutuhan akan
nutrisi yang terkandung dalam daging itu untuk dijadikan pada protein atau
energi. Protein didalam tubuh manusia ada seperlima dari berat tubuh.
Separohnya terdapat di otot, seperlimanya terdapat pada tulang,
sepersepuhnya pada kulit dan selebihnya disimpan pada jaringan lain. Semua
enzim , berbagai hormon, pengangkut zat gizi dan darah adalah protein, dan
semuanya itu diproduksi oleh sel-sel didalam tubuh kita.

Belajar dari makan makanan tubuh yang tersebut diatas, bisa ditarik hikmah
sebagai berikut :

Kalau makanan badan adalah nasi, lauk dan sebagainya, maka makanan jiwa
adalah makna-makna informasi. Ada makanan-makanan yang merugikan badan,
adapula informasi-informasi yang merugikan jiwa. Ada makanan yang
menyehatkan badan, ada juga informasi yang meningkatkan kualitas jiwa.

Makna-makna hikmah yang terkandung di dalam kitab suci adalah makanan jiwa
yang paling bergizi. Semakin lama merenungi kandungannya semakin banyak
yang terserap oleh jiwanya, maka makin bersih jiwa itu, dan semakin
sempurna kualitasnya.

Makanan begitu banyak di muka bumi, pilihan begitu banyak maka yang baik
adalah makan makanan sehat bergizi dan yang membawa berkah.

Semoga bisa membantu memahaminya.
TUKANG KAYU DAN RUMAHNYA

Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya. Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan.

Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya selesailah rumah yang diminta oleh tuannya.Hasilnya bukanlah sebuah rumah yang baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu.

'Ini adalah rumahmu, ' katanya, 'hadiah dari kami.' Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.
Teman, itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan dan kurang bertanggung jawab.Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik.

Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri.

Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.

Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan 'rumah' yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan 'rumah' kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup.

Empat Rahib Memecah Kesunyian

Empat orang rahib memutuskan berdiam diri selama satu bulan. Mereka memulainya dengan penuh semangat, tetapi setelah satu hari salah seorang dari mereka berkata, "Aku lupa apakah sudah mengunci pintu sel di biara sebelum kita berangkat,"

Yang lainnya berkata, "Bodoh engkau! Kami sudah mau diam satu bulan dan sekarang engkau membatalkannya."

Rahib ketiga berkata, "Engkau bagaimana? Engkau batal juga!"

Yang keempat, "Puji Tuhan, sayalah satu-satunya yang belum berbicara."

Kesabaran Belajar
Seorang anak muda mengunjungi seorang ahli permata dan menyatakan maksudnya untuk berguru. Ahli permata itu menolak pada mulanya, karena dia kuatir anak muda itu tidak memiliki kesabaran yang cukup untuk belajar. Anak muda itu memohon dan memohon sehingga akhirnya ahli permata itu menyetujui permintaannya. "Datanglah ke sini besok pagi." katanya.

Keesokan harinya, ahli permata itu meletakkan sebuah batu berlian di atas tangan si anak muda dan memerintahkan untuk menggenggamnya. Ahli permata itu meneruskan pekerjaannya dan meninggalkan anak muda itu sendirian sampai sore.

Hari berikutnya, ahli permata itu kembali menyuruh anak muda itu menggenggam batu yang sama dan tidak mengatakan apa pun yang lain sampai sore harinya. Demikian juga pada hari ketiga, keempat, dan kelima.

Pada hari keenam, anak muda itu tidak tahan lagi dan bertanya, "Guru, kapan saya akan diajarkan sesuatu?"
Gurunya berhenti sejenak dan menjawab, "Akan tiba saatnya nanti," dan kembali meneruskan pekerjaannya.

Beberapa hari kemudian, anak muda itu mulai merasa frustrasi. Ahli permata itu memanggilnya dan meletakkan sebuah batu ke tangan pemuda itu. Anak muda frustrasi itu sebenarnya sudah hendak menumpahkan semua kekesalannya, tetapi ketika batu itu diletakkan di atas tangannya, anak muda itu langsung berkata, "Ini bukan batu yang sama!"

"Lihatlah, kamu sudah belajar," kata gurunya.


Dokter Mulia

Suatu ketika ada seorang dokter yang mendirikan klinik gratis untuk mereka yang tidak mampu. Suatu hari, ada orang menghambur ke dalam klinik itu dengan membawa berita bahwa putra bungsu dan kesayangan sang dokter baru saja meninggal. Meski sangat perih hatinya, sang dokter berpikir sejenak, dan setelah tenang kembali ia memutuskan untuk terus melayani pasiennya.

Orang-orang yang kemudian mengetahui kejadian ini, agak kaget dengan sikapnya yang tidak begitu peduli itu. Ketika ditanya, ia menjawab, "Putraku telah mati, aku tidak dapat berbuat apa-apa soal itu. Tapi orang-orang ini yang bahkan tidak mampu untuk membayar, memerlukan pertolonganku. Aku tahu aku bisa berbuat sesuatu untuk mereka. Tidakkah lebih baik jika aku mengatasi rasa sedihku dan tetap membantu mereka yang berada dalam kesusahan ini?"


Kita Tidak Miskin

"Apakah kemiskinan itu, Bu? Anak-anak di taman bilang kita miskin. Benarkah itu, Bu?"

"Tidak, kita tidak miskin, Aiko"

"Apakah kemiskinan itu?"

"Miskin berarti tidak mempunyai sesuatu apapun untuk diberikan kepada orang lain."

"Oh? Tapi kita memerlukan semua barang yang kita punyai, apakah yang dapat kita berikan?"

"Kau ingatkah perempuan pedagang keliling yang ke sini minggu lalu? Kita memberinya sebagian dari makanan kita kepadanya. Karena ia tidak mendapat tempat menginap kota, ia kembali ke sini dan kita memberinya tempat tidur."

"Kita menjadi bersempit-sempitan"

"Dan kita sering memberikan sebagian dari sayuran kita kepada keluarga Watari, bukan?"

"Ibulah yang memberinya. Hanya saya sendiri yang miskin. Saya tak punya apa-apa untuk saya berikan kepada orang lain."

"Oh, kau punya. Setiap orang mempunyai sesuatu untuk diberikan kepada orang lain. Pikirkanlah hal itu dan kau akan menemukan sesuatu."

"Bu! Saya mempunyai sesuatu untuk saya berikan. Saya dapat memberikan cerita-cerita saya kepada teman-teman saya. Saya dapat memberikan kepada mereka cerita-cerita dongeng yang saya dengar dan baca di sekolah. Juga cerita-cerita Alkitab dari Sekolah Minggu."

"Tentu! Kau pintar bercerita. Bapakmu juga. Setiap orang senang mendengar cerita."

"Saya akan memberikan cerita kepada mereka, sekarang ini juga!"

[ Disadur dari Audrey McKim: Aiko and Her Cousin Kenichi, terjemahan: Kita Tidak Miskin, YKBK/OMF - sebuah buku cerita ringan yang inspiratif]

Moral dr cerita2 di atas ,
Nampaknya yang perlu ditanyakan bukanlah "Apakah saya punya?", karena kita pasti mempunyai sesuatu. Melainkan "Apakah yang saya punya?" yang bisa diberikan -waktu, perhatian, cerita, tenaga, makanan, tumpangan, uang, ... Pertanyaannya bukanlah "Seberapa saya punya?", karena kekayaan sejati lebih ditentukan oleh "Seberapa saya memberi?"
Arti sebuah tujuan

Joke of the Week
Berbisa

Dua ekor ular sedang menelusuri sawah mencari mangsa.
Tiba- tiba ular pertama bertanya, "Kita ini jenis ular yang berbisa nggak sih?"
"Entahlah, aku tak tahu. Emangnya kenapa?"
"Barusan aku tak sengaja menggigit bibirku ...."


Inspiration of the Week
Arti Sebuah Tujuan

Bayangkan anda saat berada di tengah samudera di atas sebuah speedboat. Lima puluh kilometer di depan anda adalah sebuah pulau dan di pulau itu terdapat semua yang anda inginkan dan cita-citakan. Semua impian anda. Dan satu-satunya cara untuk mendapatkan itu semua adalah sampai ke pulau tersebut. Pulau itu ada di belakang cakrawala. Tapi cakrawala yang mana?

Masalahnya adalah anda tidak punya kompas, peta, radio, telepon dan anda tidak tahu mana arah ke pulau tersebut. Arah yang salah akan membuat anda melenceng jauh sekali dari pulau impian, sementara di sekeliling anda yang terlihat cuma laut dan langit. Dalam dua jam, anda bisa saja telah sampai di pulau impian. Tetapi bila anda salah arah, anda bisa kehabisan bahan bakar sebelum bisa mencapai pulau impian.

Hidup tanpa tujuan yang jelas, tanpa mengetahui dan mengerti kegunaan hidup anda, adalah sama dengan dilema pulau impian. Semua impian anda sebenarnya bisa tercapai, namun untuk mencapainya anda harus mengetahui apa, di mana dan bagaimana mencapainya.

Anda mutlak mengetahui arah untuk mencapainya dan untuk itu anda memerlukan peta. tentukan peta anda sekarang, untuk dapat mencapai impian anda. Buat seteliti dan seakurat mungkin dan selanjutnya anda tinggal mengarahkan speedboat ke pulau impian anda.


Wisdom of the Week
Saya melihat seorang pemecah batu sedang memukul sebongkah batu padas sampai seratus kali
tanpa kelihatan retak sedikitpun.
Tapi, pada pukulan ke seratus satu kali, batu itu pecah menjadi dua.
Saya tahu bahwa bukan pukulan yang terakhir itu yang membelah batu,
tapi semua pukulan yang sudah dilakukan sebelumnya.
(Jacob Riis)


Tahukah Anda ?
Pada saat planet yang sekarang dikenal dengan nama Uranus ditemukan oleh Sir William Herschel pada tahun 1718, planet itu diberi nama 'Georgium Sidium', untuk menghormati Raja George III dari Inggris.

Hingga bertahun-tahun planet itu tetap dikenal dengan nama Georgian. Hingga akhirnya pada tahun 1850 namanya diganti menjadi Uranus, sesuai dengan tradisi menamakan planet-planet berdasarkan nama dewa-dewi Romawi.

Waktu Adalah Uang

Bayangkan ada sebuah bank yang memberi anda pinjaman uang sejumlah Rp. 86.400,- setiap paginya. Semua uang itu harus anda gunakan. Pada malam hari, bank akan menghapus sisa uang yang tidak anda gunakan selama sehari. Coba tebak, apa yang akan anda lakukan? Tentu saja, menghabiskan semua uang pinjaman itu.

Setiap dari kita memiliki bank semacam itu; bernama WAKTU. Setiap pagi, ia akan memberi anda 86.400 detik. Pada malam harinya ia akan menghapus sisa waktu yang tidak anda gunakan untuk tujuan baik. Karena ia tidak memberikan sisa waktunya pada anda. Ia juga tidak memberikan waktu tambahan. Setiap hari ia akan membuka satu rekening baru untuk anda. Setiap malam ia akan menghanguskan yang tersisa. Jika anda tidak menggunakannya maka kerugian akan menimpa anda. Anda tidak bisa menariknya kembali. Juga, anda tidak bisa meminta “uang muka” untuk keesokan hari. Anda harus hidup di dalam simpanan hari ini. Maka dari itu, investasikanlah untuk kesehatan, kebahagiaan dan kesuksesan anda. ,

Jam terus berdetak. Gunakan waktu anda sebaik-baiknya.

Agar tahu pentingnya waktu SETAHUN, tanyakan pada murid yang gagal kelas.
Agar tahu pentingnya waktu SEBULAN, tanyakan pada ibu yang melahirkan bayi prematur.
Agar tahu pentingnya waktu SEMINGGU, tanyakan pada editor majalah mingguan.
Agar tahu pentingnya waktu SEJAM, tanyakan pada kekasih yang menunggu untuk bertemu.
Agar tahu pentingnya waktu SEMENIT, tanyakan pada orang yang ketinggalan pesawat terbang.
Agar tahu pentingnya waktu SEDETIK, tanyakan pada orang yang baru saja terhindar dari kecelakaan.
Agar tahu pentingnya waktu SEMILIDETIK, tanyakan pada peraih medali perak Olimpiade.

Renungan:
Hargailah setiap waktu yang anda miliki. Dan ingatlah waktu tidaklah menunggu siapa-siapa.

Tong Sampah

October 3rd, 2005

Seorang pria tua yang bijak memutuskan untuk pensiun dan membeli rumah mungil dekat sebuah SMP. Selama beberapa minggu ia menikmati masa-masa pensiunnya dengan tenang dan damai. Kebetulan saat itu sedang masa liburan sekolah.

Tak berapa lama kemudian, masa sekolah tiba. Dan, sekolah itu pun penuh dengan anak-anak. Suasana tenang dan nyaman menjadi sedikit berubah. Namun yang paling menjengkelkan pak Tua adalah, setiap hari ada tiga anak laki-laki lewat di depan rumah yang suka memukuli tong sampah yang ada di pinggir jalan. Mereka membikin keributan sepanjang hari dan berulah seolah-olah menjadi pemain perkusi hebat.

Begitu terus dari hari ke hari. Sampai akhirnya pak Tua merasa harus melakukan sesuatu pada mereka. Keesokan harinya, pak Tua keluar rumah sambil tersenyum lebar menghampiri tiga anak laki-laki yang sedang asyik memukuli tong sampah. Ia menghentikan permainan mereka, dan berkata, “Hai, anak-anak! Kalian pasti suka bersenang-senang. Saya suka sekali dengan cara kalian bersenang-senang seperti ini. Sewaktu saya masih kecil, saya juga suka bermain-main seperti kalian. Nah, apakah kalian mau saya beri uang?”

“Mau.. mau..” sahut ketiga anak itu serempak.

“Okay, begini,” pak Tua itu tersenyum.

Lalu ia mengeluarkan tiga lembar uang ribuan dari sakunya. Katanya, “Masing-masing dari kalian saya beri uang seribu. Tapi kalian harus berjanji mau bermain-main di sini dan memukuli tong sampah ini setiap hari.” Anak-anak itu senangnya luar biasa. Sejak itu setiap hari mereka bekerja memukuli tong sampah itu dengan penuh semangat.

Beberapa hari kemudian, pak Tua itu menghampiri dan menyambut pekerjaan mereka dengan penuh senyum. Namun kali ini senyumnya tampak agak sedih.

Katanya, “Nak, kalian tahu khan situasi krisis akhir-akhir ini membuat uang pensiun saya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.”

Ia menarik nafas dalam-dalam. Anak-anak itu menunggu apa yang diucapkannya. Lanjut pak Tua. “Mulai hari ini saya hanya bisa membayar kalian lima ratus saja untuk tugas kalian memukuli tong sampah ini.”

Anak-anak itu tampak kecewa dengan keputusan pak Tua, namun mereka masih bisa menerimanya. Lalu mereka melanjutkan tugas mereka membuat keributan sepanjang hari.

Beberapa hari kemudian, pak Tua itu dengan wajah memelas mendekati anak-anak yang sedang memukuli tong sampah.

Katanya, “Maaf, bulan ini saya belum menerima kiriman uang pensiun. Saya hanya bisa memberi kalian bertiga seribu Rupiah saja.”

“Apa..? Seribu untuk bertiga?,” protes pemimpin pemain tong sampah itu. “Apa pak Tua kira kami ini mau menghabiskan waktu kami di sini hanya untuk uang segitu? Ah, yang benar saja! Pak Tua ini tidak masuk akal. Mulai hari ini kami tidak mau lagi melakukan tugas ini lagi. Kami keluar.”

Ketiga anak lelaki itu pergi meninggalkan pak Tua itu dengan bersungut-sungut. Dan, sejak hari itu pak Tua menikmati ketenangan hingga akhir hayatnya.

Begitulah bila kita mencampur-adukkan kegembiraan hati dengan materi. Seringkali kita kehilangan keceriaan hanya karena kita menganggap keceriaan itu adalah sebuah pekerjaan yang dibayar, maka bila bayarannya berkurang maka kesenangan pun jadi berkurang.

Jangan sampai kegembiraan anda menghilang di balik beberapa lembar uang belaka.