Buat yang suka ngirit nih banyak singkatan gaul nih..
Campuran Angka dan Huruf
hbtu : Happy birthday to you
@WRK ; At work (Sedang kerja)
2bctnd ; To be continued. (Bersambung)
2d4 : To die for (Sangat berharga)
2g4u : Too good for you (terlalu bgs u/ mu)
2Ht2Hndl : Too hot to handle. (Tak bisa dipegang)
2l8 : Too late (Terlambat)
2WIMC : To whom it may concern (Kpd yg berkepentingan)
4e : Forever (Selamanya)
4yeo :For your eyes only (Rahasia)
AAM : As a matter of fact. (Sebenarnya.)
ADctd2uv : Addicted to Love (Mabuk kepayang)
AFAIK :As far as I know (Sepanjang pengetahuanku.)
AKA : Also known as (dikenal juga sebagai)
ALlWanIsU : All I want is You (Hanya kau yang kuinginkan)
AML : All my love (Seluruh cintaku)
ASAP : As soon as possible (Secepat mungkin)
ATB : All the best (Yang terbaik)
ATW : At the weekend (Di akhir pekan)
AWHFY : Are we having fun yet (Sudah senang-senang belum?)
B4 : Before (Sebelum)
BBFN : Bye Bye for now. (Sampai jumpa)
BBS : Be back soon (Segera kembali)
BBSD : Be back soon darling (Segera kembali,Sayang)
BCNU : Be seein' you (Sampai nanti)
BF : Boy Friend (Pacar)
BGWM : Be gentle with me (Jangan kasar pdku)
BMW : Be my wife (Maukah kau jadi istriku)
BRB : Be right back (Segera kembali)
BTW : By the way (Omong-omong)
Cm Call me (Telepon aku)
Cu See you (Sampai jumpa)
CUIMD See you in my dreams (Sampai jumpa dalam mimpi)
Cul See you later (Sampai ketemu lagi)
CUL8R See you later (sampai ketemu lagi)
Dk > Don't know (Tak tahu)
Dur? > Do you remember (Kau ingat
E2eg> Ear to ear grin (Menyeringai lebar)
EOD > End of discussion (Akhir perbincangan)
EOL > End of lecture (Akhir perkuliahan)
F? > Friends (Kawan)
F2F > Face to face (Berhadapan)
F2T > Free to talk (Bebas Bicara)
FITB > Fill in the Blank (Isi titik-titik, isi sendiri bagian yang
kosong)
FYEO > For your eyes only. (Rahasia)
FYA > For your amusement (Untuk senang2)
FYI > For your information (Sebagai informasi)
GF> Girlfirend. (Pacar)
GG => Good Game (Ucapan ketika kedua pihak yang berseteru selesai
melakukan pertandingan)
Gr8 > Great (bagus)
GSOH > Good Salary, Own Home (Gaji OK, punya rumah)
GTSY > Glad to see you (Senang bertemu dgmu)
h2cus > Hope to see you soon (Kuharap kita akan segera bertemu lagi)
H8 > Hate (Benci)
HAGN > Have a good night (Selamat tidur)
HAND > Have a nice day (Selamat bersenang2)
HldMeCls > Hold me close (Peluk aku erat-erat)
Ht4U > Hot for You ("Panas" untukmu)
H&K > Hugs and Kisses (Peluk cium)
IDK => I dont know (Aku tak tahu)
IIRC > If I recall correctly (KL tdk salah ingat)
IMHO => In my humble opinion (Menurutku)
IMI => I mean it (Aku sungguh-sungguh)
ILU > I love You (Aku cinta padamu)
IMBLuv > It must be Love (Ini pasti cinta)
IOW > In other words... (Dengan kata lain.)
IOU => I owe you (Aku berhutang padamu)
IUSS > If you say so (Baiklah)
J4F > Just for fun (Sekedar bersenang-senang)
JFK > Just for kicks (Iseng-iseng)
JstCllMe > Just call Me (Telepon saja aku)
KC > Keep cool (Tetap tenang, jangan langsung marah, dst)
KHUF > know how you feel (aku mengerti perasaanmu)
KIT > Keep in touch (hubungi aku terus)
KOTC > Kiss on the cheek (Cium pipi)
KOTL > Kiss on the lips (Cium bibir)
L8 > Late (Telat, malam)
L8r > Later (Nanti)
Lol > Laughing out loud (Tertawa terbahak-bahak)
LTNC > Long time no see (Lama tak jumpa)
LtsGt2gthr > Lets get together (Kita ketemu yuk)
M$ULkeCrZ > Miss you like Crazy! (Rindu kamu � mati)
M8 > Mate (Kawan, pasangan)
MC > Merry Christmas (Selamat Natal)
MGB > May God Bless (Semoga Tuhan Memberkati)
Mob > Mobile (Mobil, bergerak)
MYOB > Mind your own Business (Jangan ikut campur)
NA> No access (Tak blh msk, tak ada akses)
NC> No comment (Tak ada komentar)
NWO > No way out (Tak ada jalan keluar)
O4U > Only for you (Hanya untukmu)
OIC > Oh, I see. (Oh, begitu.)
OTOH > On the other hand (Di sisi lain)
PCM > Please call me (Tolong telepon aku)
PPL > People (Orang-orang)
QT > Cutie (Orang yang Lucu, imut, keren)
R > Are
RMB > Ring my Bell ( tolong ingatkan aku)
ROTFL > Roll on the floor laughing (Tertawa terpingkal-pingkal)
RU? > Are you? (Kamu?)
RUOK? > Are you Ok? (Kamu baik-baik saja?)
SC > Stay cool (Tenanglah.)
SETE > Smiling Ear to Ear (Tersenyum lebar)
SO > Significant Other (Pendamping)
SOL > Sooner or later (Cepat atau lambat)
SME1 > Some One (Seseorang)
SRY > Sorry (Maaf)
SWALK > Sent with a loving Kiss (Dikirim dengan cium mesra)
SWG > Scientific Wild Guess (Tebakan ilmiah
T+ > Think positive (Berpikir positif)
T2ul > Talk to you later (Nt kita bicara lagi ya.)
TDTU > Totally devoted to you (Cinta mati padamu)
Thx > Thanks (Terima kasih)
T2Go > Time to Go (Waktunya berpisah)
TIC > Tongue in Cheek (Ramah)
TMIY > Take me I'm yours (Aku milikmu)
TTFN > Ta ta for now. (Sampai jumpa)
U > You (Kamu)
UR > You are (Kamu)
URT1 > You are the one (kamulah orangnya)
VRI > Very (Sangat)
W4u > Waiting for you (Menantimu)
WAN2 > Want to (Ingin)
WLUMRyMe > Will you marry Me? (Maukah kau menikah denganku?)
WRT > With respect to (Salam hormat untuk)
WUWH : Wish you were here (Andai kau di sini.)
X! > Typical Woman (Wanita biasa)
X > Kiss (Cium)
XclusvlyUrs > Exclusively Yours (Milikmu seorang)
Y! > Typical Man (Pria biasa)
YBS > You'll be Sorry (Kau akan menyesal)
Monday, September 18, 2006
Tuesday, September 12, 2006
Kiat Menghadapi Kejahatan Hipnotis
Penipuan yang didahului dengan tepukan bahu, bersalaman, pandangan mata atau
kepulan asap rokok, sering kali terjadi. Ini dikenal dengan kejahatan
hipnotis. Bagaimana mengantisipasi kejahatan ini?
Korbannya aksi kejahatan hipnotis selama ini beragam, dari pembantu rumah
tangga sampai ibu-ibu kaya. Barang yang berpindah tangan pun, dari belanjaan
pasar hingga perhiasan. Sukar memang menghentikan aksi yang dilakukan dengan
licik ini namun bukan berarti tidak bisa diatasi.
Hipnotis atau hipnosis, berasal dari kata Yunani, hypnosa yang berarti
tidur. Masyarakat Indonesia juga telah mengenal hipnotis secara tradisional.
Dalam istilah Jawa, ada yang disebut ilmu gendam atau mempengaruhi seseorang
lewat pikiran dengan menggunakan mantera-mantera tertentu. Gendam termasuk
katagori magic.
Misalnya kehebatan seorang Kubu di Jambi dalam menangkap ikan hanya dengan
tepukan tangan. Lalu masyarakat di pinggir Sungai Serayu, Jawa Tengah dengan
ilmu gendam-nya ini untuk menangkap ikan. Mereka mencari ikan bukan dengan
pancing atau jala, melainkan menyelam. Sambil menyelam mereka menggendam,
ikan dengan cepat mereka dapatkan.
Di era sekarang ini, popularitas hipnotis terdongkrak seiring kesuksesan
Deddy Corbuzier "membumikan" sulap lewat televisi dan menjadikan sulap dan
pesulapnya kian dekat dengan masyarakat. Sejalan dengan itu, giliran program
hiburan yang menampilkan ilmu hipnotis menghiasi layar televisi. Romy Rafael
salah seorang yang ikut mempopulerkan hipnotis ini.
Menurut pria tampan kelahiran Surabaya, 12 Juli 1977 itu, banyak orang yang
mengidentikkan ilmu hipnotis itu sebagai ilmu kejahatan. Mengenai hal itu
Romy Rafael mengaku perlu meluruskan pandangan tersebut.
"Hipnotis enggak seperti itu. Tidak mungkin ada pencurian memakai hipnotis
karena sudah pasti si korban akan menutup diri. Hipnotis tidak bisa berjalan
kalau subyek merasa perintah dari si penghipnotis bertentangan dengan
moralnya,"ujarnya mengutip situs pribadinya.
Untuk menghilangkan citra negatif hipnotis, Romy membuka sebuah klinik
Hipnoterapi di Piano Cafe, di kawasan Jalan Wijaya 1, Jakarta Selatan."Saya
ingin dengan hipnoterapi ini bisa mengubah pola pikir dan kebiasaan buruk
masyarakat," ujarnya, Kamis.
Sejatinya ilmu hipnotis modern dikenal manusia sejak abad 18. Tokoh utamanya
adalah Franz Anton Mesmer, dan disusul oleh James Braid, Charcot, Liebault,
Bemheim, Sigmund Freud, Clark Haul, dan sebagainya.
Hipnotis oleh para pakar di barat lebih diyakini sebagai seni ketimbang
klenik. Hipnotis, kata para pakar itu, merupakan seni sugesti, seni
komunikasi, seni merubah tingkat kesadaran, dan seni eksplorasi alam bawah
sadar.
Hipnotis, kini telah berkembang pesat dan banyak dimanfaatkan sebagai terapi
berbagai penyakit yang berhubungan dengan pikiran atau sugesti. Seperti
phobia, stress hingga depresi, kecanduan obat dan perokok berat. Masa
kesembuhan bergantung pada berat tidaknya masalah kesehatan yang diderita
pasien.
Menurut pakar Hypnosis Indonesia, Yan Nurindra, MCH, CHt yang telah mengajar
ilmu hipnotis di empat kota: Jakarta, Semarang, Yogyakara dan Denpasar,
konsep dasar hipnotis adalah belajar memahami fakta dan mitos di sekitar
hipnotis, memahami fungsi dan peranan Sub-Conscious (alam bawah sadar).
Secara umum, wilayah kesadaran manusia memiliki tiga kategori. Terdiri dari:
Kesadaran Tinggi (Super-Conscious) , Kesadaran Normal (Conscious), Bawah
Sadar (Sub-Conscious) . Dalam kehidupan sehari-hari, mekanisme manusia
biasanya terdiri: Conscious 12 % , Sub-Conscious 88 %.
Tak heran kemudian, seseorang yang gampang tersugesti, biasanya mudah pula
terhipnotis. Begitu pula dengan mereka yang memiliki IQ tinggi atau punya
tingkat konsentrasi tinggi, akan mudah diarahkan. Pada saat proses memasuki
alam pikiran seseorang, otak kiri yang punya kemampuan menganalisa dan
berhitung, kemampuannya perlahan turun.
Sedang otak kanan yang memiliki kemampuan untuk berkreasi, berimajinasi dan
bermimpi, begitu menerima perintah baru, langsung diserap tanpa menganalisa
lebih dulu.
"Hipnotis, sebenarnya murni kemampuan persuasif seseorang untuk
mengendalikan alam bawah sadar orang lain. Sayangnya, hipnotis kerap disalah
gunakan untuk melakukan kejahatan. Padahal jika dimanfaatkan dengan benar,
terapi masalah psikis melalui kendali alam bawah sadar, dengan menggunakan
hipnotis menjadi lebih efektif," ujarnya.
Lalu bagaimana menghilangkan pengaruh hipnotis ini? Ir. RMH Gembong
Danudiningrat, paranormal asal Yogyakarta, punya kiat menghindar atau
menghilangkan pengaruhi hipnotis.
Menurutnya, tepukan bahu dan mantera-mantera sebenarnya bukan untuk
mempengaruhi si korban, tapi lebih untuk persiapan si penipu. Jadi, waktu
dia mengucapkan mantera, menepuk bahu atau bersalaman, kekuatan magnetnya
mengumpul sehingga bisa diarahkan ke calon korban.
Penipuan seperti itulah yang belakangan jamak terjadi. Terutama di
tempat-tempat keramaian, pasar, pusat perbelanjaan, halte bus, bahkan
pemukiman. Kendati banyak yang menjadi korban, namun ada juga yang berhasil
menggagalkannya.
Menurut Gembong kuncinya menghilangkan pengaruh hipnotis adalah waspada.
Konsentrasikan pikiran ke satu titik di tubuh pada kesempatan pertama.
"Jangan mau dikuasai orang lain. Ibaratnya badan milik saya sendiri tak ada
pihak lain yang bisa mengontrolnya kecuali saya. Jangan sekali-sekali
membiarkan diri terbawa omongan."
Yang tak kalah pentingnya, katanya, berhati-hati, jangan sampai kehilangan
kesadaran bila diajak ngobrol, dinasihati, atau ditepuk bahu kita oleh orang
yang belum kita kenal. "Jadi, kewaspadaan kepada seseorang sangat perlu.
Kalau bisa kita segera menghindar." Kalau enggak mungkin, coba "serang"
kembali dengan pertanyaan untuk menghilangkan (membuyarkan) konsentrasi
lawan.
Gembong juga menganjurkan untuk tidak gampang ramah, terutama kepada orang
yang tak dikenal. Khususnya para wanita, berhati-hatilah kalau menerima
sapaan. Banyak sudah yang tak cuma tertipu, tetapi juga dilecehkan. Wanita
memang sering jadi sasaran lantaran punya sifat tidak tegaan dan gampang
dipengaruhi.
Sebetulnya, kata Gembong, menghindari pengaruh hipnotis bukan hal yang sukar
dilakukan. Kunci utamanya bersikap tenang, konsentrasi penuh kepada setiap
hal, dan selalu waspada . Ini berlaku untuk keadaan apapun saat berada di
manapun. Gampangnya, seperti nasihat yang dituturkan orang tua: "Ojo
ngalamun, merga ngalamun iku koncone setan" (jangan melamun, sebab dengan
melamun kita berteman dengan setan)," ujarnya. (Berbagai Sumber)
Dedy Ardiansyah >> Global | Medan
Kiat Menghadapi Kejahatan Hipnotis
PENIPUAN yang didahului dengan tepukan bahu, bersalaman, pandangan mata atau
kepulan asap rokok, sering kali terjadi. Ini dikenal dengan kejahatan
hipnotis. Korbannya beragam, dari pembantu rumah tangga sampai ibu-ibu kaya.
Barang yang berpindah tangan pun, dari belanjaan pasar hingga perhiasan.
Sukar memang menghentikan aksi yang dilakukan dengan licik ini namun bukan
berarti tidak bisa diatasi.
Masyarakat Indonesia ternyata telah mengenal hipnotis secara tradisional.
Misalnya kehebatan seorang Kubu di Jambi dalam menangkap ikan hanya dengan
tepukan tangan. Lalu masyarakat di pinggir Sungai Serayu, Jawa Tengah dengan
ilmu gendam-nya ini untuk menangkap ikan. Mereka mencari ikan bukan dengan
pancing atau jala, melainkan menyelam. Sambil menyelam mereka menggendam
ikan dengan cepat mereka mendapatkannya.
Terlepas dari berbakat atau tidaknya seseorang, hipnotis dengan gelombang
telekinetis ini mudah dipelajari. Sayangnya kemampuan yang bermanfaat ini,
banyak dipelajari hanya untuk disalah gunakan.
Menurut Ir. RMH Gembong Danudiningrat, paranormal asal Yogyakarta, setiap
orang bisa mengaktifkannya. Kemampuan ini bisa dilatih karena pada dasarnya
setiap orang mempunyai bekal. Hanya saja ada yang rajin melatih, sementara
yang lain membiarkannya. Sebagai perumpamaan, setiap orang punya pisau yang
ketajamannya berbeda-beda. Ada yang rajin mengasah dan ada yang tidak.
Bahkan ada yang cenderung membuangnya.
Soal teknik pelaksanaan yang berbeda-beda, baik dengan tepukan, salaman atau
kepulan asap rokok, terjadi karena perbedaan antara magnetisme dengan mejik
atau kemampuan gaib. Dengan tepukan atau sorot mata, pelaku sudah
menimbulkan rasa was-was pada diri calon korban. Ia seolah-olah menghipnotis
diri sendiri sehingga semakin gampang terkena pengaruh magnetisme.
Tepukan bahu dan matera-mantera sebenarnya bukan untuk mempengaruhi si
korban, tapi lebih untuk persiapan si penipu. Jadi, waktu dia mengucapkan
mantera, menepuk bahu atau bersalaman, kekuatan magnetnya mengumpul sehingga
bisa diarahkan ke calon korban.
Penipuan seperti itu belakangan memang sering kita dengar. Terutama di
tempat-tempat keramaian, pasar, pusat perbelanjaan, halte bus, bahkan
pemukiman. Banyak pula korban, namun ada yang berhasil menggagalkannya yaitu
dengan kewaspadaan tinggi.
Menurut Gembong, saat ditipu, korban akan merasa kehilangan kesadarannya.
Tangan dan organ lain bergerak bukan atas perintah otak, melainkan seluruh
kehendak si penipu. Sesudah "siuman" biasanya barang-barang bawaan, terutama
yang berharga, sudah beralih tangan.
Anehnya, korban bisa beraneka ragam. Bahkan sesorang yang sudah punya
"pagar" pun terkadang kena. Dengan kekuatan atau ilmu yang dimilikinya, si
penipu ternyata mampu membelokan otak dan memerintahkan sesuatu kepada orang
yang belum dikenal.
Dalam istilah Jawa, itu di sebut ilmu gendam, mempengaruhi seseorang lewat
pikiran dengan menggunakan mantera-mantera tertentu. Gendam termasuk
katagori mejik, dengan hipnotis yang lebih empiris karena proses penjalaran
gelombang telekinesis. "Kalau mejik jangkanya bisa lama, sedangkan gendam
atau hipnotis hanya berlangsung sesaat," kata Gembong.
Setiap manusia mempunyai sisi jasmani dan rohani (batin). Sisi jasmani bisa
dipecah lagi menjadi dua bagian, jasmani kasar (badan fisik yang kelihatan)
dan jasmani halus (badan halus atau aura). Badan halus ini berupa materi,
yang meski tidak kelihatan, tapi ada lantaran biasnya bisa ditangkap dengan
teknik fotografi Kirlian. Aura ini melingkupi tubuh kita.
Setelah dipengaruhi rohani, yaitu getaran non material, jasmani akan
mempunyai jiwa. Hal itu ditandai adanya kemauan dan perasaan.
Gembong menganggap gelombang jahat adalah bagian dari proses alam, karenanya
ia menyarankan untuk meredamnya harus dari alam juga. Batu-batuan semacam
topas dan rubi adalah peredam gelombang jahat. Berpikiran positif,
memusatkan pikiran dan memohon keselamatan sangat dianjurkan. "Dengan berdoa
sebenarnya kita memang sudah memasang pagar".
Bagi mereka yang punya kepekaan badan halus, bisa membentengi diri dengan
badan halusnya. Yang terpenting, adalah berdoa kepada Tuhan. Setiap kali
bepergian, hendaknya tidak membawa masalah. Bila tiba-tiba muncul perasaan
ragu, jadi pergi atau tidak, ambil keputusan yang paling kuat, yaitu
keputusan yang pertama.
Kalaupun sedang apes hingga menjadi sasaran, jangan khawatir. Langsung
konsentrasikan pikiran ke satu titik di tubuh pada kesempatan pertama.
"Jangan mau dikuasai orang lain. Ibaratnya badan milik saya sendiri tak ada
pihak lain yang bisa mengontrolnya kecuali saya. Jangan sekali-sekali
membiarkan diri terbawa omongan."
Yang tak kalah pentingnya, berhati-hati, jangan sampai kehilangan kesadaran
bila diajak ngobrol, dinasihati, atau ditepuk bahu kita oleh orang yang
belum kita kenal. Jadi, kewaspadaan kepada seseorang sangat perlu. Kalau
bisa kita segera menghindar. Kalau enggak mungkin, coba "serang" kembali
dengan pertanyaan untuk menghilangkan (membuyarkan) konsentrasi lawan.
Gembong juga menganjurkan untuk tidak gampang ramah, terutama kepada orang
yang tak dikenal. Khususnya para wanita, berhati-hatilah kalau menerima
sapaan. Banyak sudah yang tak cuma tertipu, tetapi juga dilecehkan. Wanita
memang sering jadi sasaran lantaran punya sifat tidak tegaan dan gampang
dipengaruhi.
Sebetulnya bukan hal yang sukar dilakukan. Sikap tenang, konsentrasi penuh
kepada setiap hal, dan selalu waspada. Ini berlaku untuk keadaan apapun saat
berada di manapun. Gampangnya, seperti nasihat yang dituturkan orang tua:
"Ojo ngalamun, merga ngalamun iku koncone setan" (jangan melamun, sebab
dengan melamun kita berteman dengan setan).
Kadang-kadang, belum digarap dengan magnetisme pun korban sudah terpengaruh.
Ini bisa terjadi lantaran sugesti. Misalnya si penipu mengenakan pakaian
rapi, ramah dan tampan sehingga calon korban terpesona dan mudah digiring.
Korban bisa saja membenarkan apa pun omongan pelaku, atau bisa saja si
pelaku asal menebak nama atau keadaan calon korban dan dibenarkan, karena
biasanya orang yang punya kekuatan supranatural sering tepat menebak. Ini
pula sebabnya, sebelum beraksi si pelaku bisa mengecek dulu "kekuatan" calon
korbannya tanpa diketahui. Atau, paling tidak, ia secara selektif membaca
pikiran korban, apakah sedang dalam keadaan linglung atau tidak. (Rudi
Setiadi)***
Penipuan yang didahului dengan tepukan bahu, bersalaman, pandangan mata atau
kepulan asap rokok, sering kali terjadi. Ini dikenal dengan kejahatan
hipnotis. Bagaimana mengantisipasi kejahatan ini?
Korbannya aksi kejahatan hipnotis selama ini beragam, dari pembantu rumah
tangga sampai ibu-ibu kaya. Barang yang berpindah tangan pun, dari belanjaan
pasar hingga perhiasan. Sukar memang menghentikan aksi yang dilakukan dengan
licik ini namun bukan berarti tidak bisa diatasi.
Hipnotis atau hipnosis, berasal dari kata Yunani, hypnosa yang berarti
tidur. Masyarakat Indonesia juga telah mengenal hipnotis secara tradisional.
Dalam istilah Jawa, ada yang disebut ilmu gendam atau mempengaruhi seseorang
lewat pikiran dengan menggunakan mantera-mantera tertentu. Gendam termasuk
katagori magic.
Misalnya kehebatan seorang Kubu di Jambi dalam menangkap ikan hanya dengan
tepukan tangan. Lalu masyarakat di pinggir Sungai Serayu, Jawa Tengah dengan
ilmu gendam-nya ini untuk menangkap ikan. Mereka mencari ikan bukan dengan
pancing atau jala, melainkan menyelam. Sambil menyelam mereka menggendam,
ikan dengan cepat mereka dapatkan.
Di era sekarang ini, popularitas hipnotis terdongkrak seiring kesuksesan
Deddy Corbuzier "membumikan" sulap lewat televisi dan menjadikan sulap dan
pesulapnya kian dekat dengan masyarakat. Sejalan dengan itu, giliran program
hiburan yang menampilkan ilmu hipnotis menghiasi layar televisi. Romy Rafael
salah seorang yang ikut mempopulerkan hipnotis ini.
Menurut pria tampan kelahiran Surabaya, 12 Juli 1977 itu, banyak orang yang
mengidentikkan ilmu hipnotis itu sebagai ilmu kejahatan. Mengenai hal itu
Romy Rafael mengaku perlu meluruskan pandangan tersebut.
"Hipnotis enggak seperti itu. Tidak mungkin ada pencurian memakai hipnotis
karena sudah pasti si korban akan menutup diri. Hipnotis tidak bisa berjalan
kalau subyek merasa perintah dari si penghipnotis bertentangan dengan
moralnya,"ujarnya mengutip situs pribadinya.
Untuk menghilangkan citra negatif hipnotis, Romy membuka sebuah klinik
Hipnoterapi di Piano Cafe, di kawasan Jalan Wijaya 1, Jakarta Selatan."Saya
ingin dengan hipnoterapi ini bisa mengubah pola pikir dan kebiasaan buruk
masyarakat," ujarnya, Kamis.
Sejatinya ilmu hipnotis modern dikenal manusia sejak abad 18. Tokoh utamanya
adalah Franz Anton Mesmer, dan disusul oleh James Braid, Charcot, Liebault,
Bemheim, Sigmund Freud, Clark Haul, dan sebagainya.
Hipnotis oleh para pakar di barat lebih diyakini sebagai seni ketimbang
klenik. Hipnotis, kata para pakar itu, merupakan seni sugesti, seni
komunikasi, seni merubah tingkat kesadaran, dan seni eksplorasi alam bawah
sadar.
Hipnotis, kini telah berkembang pesat dan banyak dimanfaatkan sebagai terapi
berbagai penyakit yang berhubungan dengan pikiran atau sugesti. Seperti
phobia, stress hingga depresi, kecanduan obat dan perokok berat. Masa
kesembuhan bergantung pada berat tidaknya masalah kesehatan yang diderita
pasien.
Menurut pakar Hypnosis Indonesia, Yan Nurindra, MCH, CHt yang telah mengajar
ilmu hipnotis di empat kota: Jakarta, Semarang, Yogyakara dan Denpasar,
konsep dasar hipnotis adalah belajar memahami fakta dan mitos di sekitar
hipnotis, memahami fungsi dan peranan Sub-Conscious (alam bawah sadar).
Secara umum, wilayah kesadaran manusia memiliki tiga kategori. Terdiri dari:
Kesadaran Tinggi (Super-Conscious) , Kesadaran Normal (Conscious), Bawah
Sadar (Sub-Conscious) . Dalam kehidupan sehari-hari, mekanisme manusia
biasanya terdiri: Conscious 12 % , Sub-Conscious 88 %.
Tak heran kemudian, seseorang yang gampang tersugesti, biasanya mudah pula
terhipnotis. Begitu pula dengan mereka yang memiliki IQ tinggi atau punya
tingkat konsentrasi tinggi, akan mudah diarahkan. Pada saat proses memasuki
alam pikiran seseorang, otak kiri yang punya kemampuan menganalisa dan
berhitung, kemampuannya perlahan turun.
Sedang otak kanan yang memiliki kemampuan untuk berkreasi, berimajinasi dan
bermimpi, begitu menerima perintah baru, langsung diserap tanpa menganalisa
lebih dulu.
"Hipnotis, sebenarnya murni kemampuan persuasif seseorang untuk
mengendalikan alam bawah sadar orang lain. Sayangnya, hipnotis kerap disalah
gunakan untuk melakukan kejahatan. Padahal jika dimanfaatkan dengan benar,
terapi masalah psikis melalui kendali alam bawah sadar, dengan menggunakan
hipnotis menjadi lebih efektif," ujarnya.
Lalu bagaimana menghilangkan pengaruh hipnotis ini? Ir. RMH Gembong
Danudiningrat, paranormal asal Yogyakarta, punya kiat menghindar atau
menghilangkan pengaruhi hipnotis.
Menurutnya, tepukan bahu dan mantera-mantera sebenarnya bukan untuk
mempengaruhi si korban, tapi lebih untuk persiapan si penipu. Jadi, waktu
dia mengucapkan mantera, menepuk bahu atau bersalaman, kekuatan magnetnya
mengumpul sehingga bisa diarahkan ke calon korban.
Penipuan seperti itulah yang belakangan jamak terjadi. Terutama di
tempat-tempat keramaian, pasar, pusat perbelanjaan, halte bus, bahkan
pemukiman. Kendati banyak yang menjadi korban, namun ada juga yang berhasil
menggagalkannya.
Menurut Gembong kuncinya menghilangkan pengaruh hipnotis adalah waspada.
Konsentrasikan pikiran ke satu titik di tubuh pada kesempatan pertama.
"Jangan mau dikuasai orang lain. Ibaratnya badan milik saya sendiri tak ada
pihak lain yang bisa mengontrolnya kecuali saya. Jangan sekali-sekali
membiarkan diri terbawa omongan."
Yang tak kalah pentingnya, katanya, berhati-hati, jangan sampai kehilangan
kesadaran bila diajak ngobrol, dinasihati, atau ditepuk bahu kita oleh orang
yang belum kita kenal. "Jadi, kewaspadaan kepada seseorang sangat perlu.
Kalau bisa kita segera menghindar." Kalau enggak mungkin, coba "serang"
kembali dengan pertanyaan untuk menghilangkan (membuyarkan) konsentrasi
lawan.
Gembong juga menganjurkan untuk tidak gampang ramah, terutama kepada orang
yang tak dikenal. Khususnya para wanita, berhati-hatilah kalau menerima
sapaan. Banyak sudah yang tak cuma tertipu, tetapi juga dilecehkan. Wanita
memang sering jadi sasaran lantaran punya sifat tidak tegaan dan gampang
dipengaruhi.
Sebetulnya, kata Gembong, menghindari pengaruh hipnotis bukan hal yang sukar
dilakukan. Kunci utamanya bersikap tenang, konsentrasi penuh kepada setiap
hal, dan selalu waspada . Ini berlaku untuk keadaan apapun saat berada di
manapun. Gampangnya, seperti nasihat yang dituturkan orang tua: "Ojo
ngalamun, merga ngalamun iku koncone setan" (jangan melamun, sebab dengan
melamun kita berteman dengan setan)," ujarnya. (Berbagai Sumber)
Dedy Ardiansyah >> Global | Medan
Kiat Menghadapi Kejahatan Hipnotis
PENIPUAN yang didahului dengan tepukan bahu, bersalaman, pandangan mata atau
kepulan asap rokok, sering kali terjadi. Ini dikenal dengan kejahatan
hipnotis. Korbannya beragam, dari pembantu rumah tangga sampai ibu-ibu kaya.
Barang yang berpindah tangan pun, dari belanjaan pasar hingga perhiasan.
Sukar memang menghentikan aksi yang dilakukan dengan licik ini namun bukan
berarti tidak bisa diatasi.
Masyarakat Indonesia ternyata telah mengenal hipnotis secara tradisional.
Misalnya kehebatan seorang Kubu di Jambi dalam menangkap ikan hanya dengan
tepukan tangan. Lalu masyarakat di pinggir Sungai Serayu, Jawa Tengah dengan
ilmu gendam-nya ini untuk menangkap ikan. Mereka mencari ikan bukan dengan
pancing atau jala, melainkan menyelam. Sambil menyelam mereka menggendam
ikan dengan cepat mereka mendapatkannya.
Terlepas dari berbakat atau tidaknya seseorang, hipnotis dengan gelombang
telekinetis ini mudah dipelajari. Sayangnya kemampuan yang bermanfaat ini,
banyak dipelajari hanya untuk disalah gunakan.
Menurut Ir. RMH Gembong Danudiningrat, paranormal asal Yogyakarta, setiap
orang bisa mengaktifkannya. Kemampuan ini bisa dilatih karena pada dasarnya
setiap orang mempunyai bekal. Hanya saja ada yang rajin melatih, sementara
yang lain membiarkannya. Sebagai perumpamaan, setiap orang punya pisau yang
ketajamannya berbeda-beda. Ada yang rajin mengasah dan ada yang tidak.
Bahkan ada yang cenderung membuangnya.
Soal teknik pelaksanaan yang berbeda-beda, baik dengan tepukan, salaman atau
kepulan asap rokok, terjadi karena perbedaan antara magnetisme dengan mejik
atau kemampuan gaib. Dengan tepukan atau sorot mata, pelaku sudah
menimbulkan rasa was-was pada diri calon korban. Ia seolah-olah menghipnotis
diri sendiri sehingga semakin gampang terkena pengaruh magnetisme.
Tepukan bahu dan matera-mantera sebenarnya bukan untuk mempengaruhi si
korban, tapi lebih untuk persiapan si penipu. Jadi, waktu dia mengucapkan
mantera, menepuk bahu atau bersalaman, kekuatan magnetnya mengumpul sehingga
bisa diarahkan ke calon korban.
Penipuan seperti itu belakangan memang sering kita dengar. Terutama di
tempat-tempat keramaian, pasar, pusat perbelanjaan, halte bus, bahkan
pemukiman. Banyak pula korban, namun ada yang berhasil menggagalkannya yaitu
dengan kewaspadaan tinggi.
Menurut Gembong, saat ditipu, korban akan merasa kehilangan kesadarannya.
Tangan dan organ lain bergerak bukan atas perintah otak, melainkan seluruh
kehendak si penipu. Sesudah "siuman" biasanya barang-barang bawaan, terutama
yang berharga, sudah beralih tangan.
Anehnya, korban bisa beraneka ragam. Bahkan sesorang yang sudah punya
"pagar" pun terkadang kena. Dengan kekuatan atau ilmu yang dimilikinya, si
penipu ternyata mampu membelokan otak dan memerintahkan sesuatu kepada orang
yang belum dikenal.
Dalam istilah Jawa, itu di sebut ilmu gendam, mempengaruhi seseorang lewat
pikiran dengan menggunakan mantera-mantera tertentu. Gendam termasuk
katagori mejik, dengan hipnotis yang lebih empiris karena proses penjalaran
gelombang telekinesis. "Kalau mejik jangkanya bisa lama, sedangkan gendam
atau hipnotis hanya berlangsung sesaat," kata Gembong.
Setiap manusia mempunyai sisi jasmani dan rohani (batin). Sisi jasmani bisa
dipecah lagi menjadi dua bagian, jasmani kasar (badan fisik yang kelihatan)
dan jasmani halus (badan halus atau aura). Badan halus ini berupa materi,
yang meski tidak kelihatan, tapi ada lantaran biasnya bisa ditangkap dengan
teknik fotografi Kirlian. Aura ini melingkupi tubuh kita.
Setelah dipengaruhi rohani, yaitu getaran non material, jasmani akan
mempunyai jiwa. Hal itu ditandai adanya kemauan dan perasaan.
Gembong menganggap gelombang jahat adalah bagian dari proses alam, karenanya
ia menyarankan untuk meredamnya harus dari alam juga. Batu-batuan semacam
topas dan rubi adalah peredam gelombang jahat. Berpikiran positif,
memusatkan pikiran dan memohon keselamatan sangat dianjurkan. "Dengan berdoa
sebenarnya kita memang sudah memasang pagar".
Bagi mereka yang punya kepekaan badan halus, bisa membentengi diri dengan
badan halusnya. Yang terpenting, adalah berdoa kepada Tuhan. Setiap kali
bepergian, hendaknya tidak membawa masalah. Bila tiba-tiba muncul perasaan
ragu, jadi pergi atau tidak, ambil keputusan yang paling kuat, yaitu
keputusan yang pertama.
Kalaupun sedang apes hingga menjadi sasaran, jangan khawatir. Langsung
konsentrasikan pikiran ke satu titik di tubuh pada kesempatan pertama.
"Jangan mau dikuasai orang lain. Ibaratnya badan milik saya sendiri tak ada
pihak lain yang bisa mengontrolnya kecuali saya. Jangan sekali-sekali
membiarkan diri terbawa omongan."
Yang tak kalah pentingnya, berhati-hati, jangan sampai kehilangan kesadaran
bila diajak ngobrol, dinasihati, atau ditepuk bahu kita oleh orang yang
belum kita kenal. Jadi, kewaspadaan kepada seseorang sangat perlu. Kalau
bisa kita segera menghindar. Kalau enggak mungkin, coba "serang" kembali
dengan pertanyaan untuk menghilangkan (membuyarkan) konsentrasi lawan.
Gembong juga menganjurkan untuk tidak gampang ramah, terutama kepada orang
yang tak dikenal. Khususnya para wanita, berhati-hatilah kalau menerima
sapaan. Banyak sudah yang tak cuma tertipu, tetapi juga dilecehkan. Wanita
memang sering jadi sasaran lantaran punya sifat tidak tegaan dan gampang
dipengaruhi.
Sebetulnya bukan hal yang sukar dilakukan. Sikap tenang, konsentrasi penuh
kepada setiap hal, dan selalu waspada. Ini berlaku untuk keadaan apapun saat
berada di manapun. Gampangnya, seperti nasihat yang dituturkan orang tua:
"Ojo ngalamun, merga ngalamun iku koncone setan" (jangan melamun, sebab
dengan melamun kita berteman dengan setan).
Kadang-kadang, belum digarap dengan magnetisme pun korban sudah terpengaruh.
Ini bisa terjadi lantaran sugesti. Misalnya si penipu mengenakan pakaian
rapi, ramah dan tampan sehingga calon korban terpesona dan mudah digiring.
Korban bisa saja membenarkan apa pun omongan pelaku, atau bisa saja si
pelaku asal menebak nama atau keadaan calon korban dan dibenarkan, karena
biasanya orang yang punya kekuatan supranatural sering tepat menebak. Ini
pula sebabnya, sebelum beraksi si pelaku bisa mengecek dulu "kekuatan" calon
korbannya tanpa diketahui. Atau, paling tidak, ia secara selektif membaca
pikiran korban, apakah sedang dalam keadaan linglung atau tidak. (Rudi
Setiadi)***
Seorang anak lahir setelah 11 tahun pernikahan.
Mereka adalah pasangan yg saling mencintai dan anak itu adalah buah hati
mereka.Saat anak tersebut berumur dua tahun, suatu pagi si ayah melihat
sebotol
obat yg terbuka.
Dia terlambat untuk ke kantor maka dia meminta istrinya untuk menutupnya
dan menyimpannya di lemari. Istrinya, karena kesibukannya di dapur sama
sekali melupakan hal
tersebut.
Anak itu melihat botol itu dan dengan riang memainkannya.
Karena tertarik dengan warna obat tersebut lalu si anak memakannya
semua. Obat tersebut adalah obat yg keras yg bahkan untuk orang dewasa pun
hanya dalam dosis kecil saja.
Sang istri segera membawa si anak ke rumah sakit.
Tapi si anak tidak tertolong.
Sang istri ngeri membayangkan bagaimana dia harus menghadapi suaminya.
Ketika si suami datang ke rumah sakit dan melihat anaknya yang telah
meninggal, dia melihat kepada istrinya dan mengucapkan 3 kata.
PERTANYAAN :
1. Apa 3 kata itu ?
2. Apa makna cerita ini ?
JAWABAN :
(1)
Sang Suami hanya mengatakan "SAYA BERSAMAMU SAYANG"
Reaksi sang suami yang sangat tidak disangka-sangka adalah sikap yang
proaktif. Si anak sudah meninggal,tidak bisa dihidupkan kembali.
Tidak ada gunanya mencari-cari kesalahan pada sang istri.
Lagipula seandainya dia menyempatkan untuk menutup dan menyimpan botol
tersebut maka hal ini tdk akan terjadi.
Tidak ada yg perlu disalahkan. Si istri juga kehilangan anak semata
wayangnya.
Apa yg si istri perlu saat ini adalah penghiburan dari sang suami dan
itulah yg diberikan suaminya sekarang.
Jika semua orang dapat melihat hidup dengan cara pandang seperti ini
maka akan terdapat jauh lebih sedikit permasalahan di dunia ini.
"Perjalanan ribuan mil dimulai dengan satu langkah kecil"
Buang rasa iri hati, cemburu, dendam, egois dan ketakutanmu. Kamu akan
menemukan bahwa sesungguhnya banyak hal tidak sesulit yang kau bayangkan.
(2) MORAL CERITA
Cerita ini layak untuk dibaca. Kadang kita membuang waktu hanya untuk
mencari kesalahan org lain atau siapa yg salah dalam sebuah hubungan
atau dalam pekerjaan atau dengan org yg kita kenal.
Hal ini akan membuat kita kehilangan kehangatan dalam hubungan antar
manusia.
Mereka adalah pasangan yg saling mencintai dan anak itu adalah buah hati
mereka.Saat anak tersebut berumur dua tahun, suatu pagi si ayah melihat
sebotol
obat yg terbuka.
Dia terlambat untuk ke kantor maka dia meminta istrinya untuk menutupnya
dan menyimpannya di lemari. Istrinya, karena kesibukannya di dapur sama
sekali melupakan hal
tersebut.
Anak itu melihat botol itu dan dengan riang memainkannya.
Karena tertarik dengan warna obat tersebut lalu si anak memakannya
semua. Obat tersebut adalah obat yg keras yg bahkan untuk orang dewasa pun
hanya dalam dosis kecil saja.
Sang istri segera membawa si anak ke rumah sakit.
Tapi si anak tidak tertolong.
Sang istri ngeri membayangkan bagaimana dia harus menghadapi suaminya.
Ketika si suami datang ke rumah sakit dan melihat anaknya yang telah
meninggal, dia melihat kepada istrinya dan mengucapkan 3 kata.
PERTANYAAN :
1. Apa 3 kata itu ?
2. Apa makna cerita ini ?
JAWABAN :
(1)
Sang Suami hanya mengatakan "SAYA BERSAMAMU SAYANG"
Reaksi sang suami yang sangat tidak disangka-sangka adalah sikap yang
proaktif. Si anak sudah meninggal,tidak bisa dihidupkan kembali.
Tidak ada gunanya mencari-cari kesalahan pada sang istri.
Lagipula seandainya dia menyempatkan untuk menutup dan menyimpan botol
tersebut maka hal ini tdk akan terjadi.
Tidak ada yg perlu disalahkan. Si istri juga kehilangan anak semata
wayangnya.
Apa yg si istri perlu saat ini adalah penghiburan dari sang suami dan
itulah yg diberikan suaminya sekarang.
Jika semua orang dapat melihat hidup dengan cara pandang seperti ini
maka akan terdapat jauh lebih sedikit permasalahan di dunia ini.
"Perjalanan ribuan mil dimulai dengan satu langkah kecil"
Buang rasa iri hati, cemburu, dendam, egois dan ketakutanmu. Kamu akan
menemukan bahwa sesungguhnya banyak hal tidak sesulit yang kau bayangkan.
(2) MORAL CERITA
Cerita ini layak untuk dibaca. Kadang kita membuang waktu hanya untuk
mencari kesalahan org lain atau siapa yg salah dalam sebuah hubungan
atau dalam pekerjaan atau dengan org yg kita kenal.
Hal ini akan membuat kita kehilangan kehangatan dalam hubungan antar
manusia.
Gelas
Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak.
Pada suatu pagi, datanglah
seorang anak muda yang sedang dirundung masalah.
Langkahnya gontai dan air
mukanya ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang
yang tak bahagia.
Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan
semua masalahnya. Pak Tua yang
bijak, hanya mendengarkanya dengan seksama. Ia lalu
mengambil segenggam garam,
dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air.
Ditaburkannya garam itu ke
dalam gelas, lalu diaduknya perlahan. "Coba, minum
ini, dan katakan bagaimana
rasanya?", ujar Pak tua itu. "Asin, asin
sekali," jawab sang tamu, sambil
meludah ke samping. Pak Tua itu, sedikit tersenyum.
Ia, lalu mengajak tamunya
ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan
dekat tempat tinggalnya.
Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan
akhirnya sampailah mereka ke tepi
telaga yang tenang itu. Pak tua itu, lalu kembali
menaburkan segenggam garam, ke
alam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya
gelombang dengan mengaduk-aduk
dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga
itu. "Coba, ambil air dari
telaga ini, dan minumlah." Saat tamu itu selesai
mereguk air, Pak tua berkata
lagi, "Bagaimana rasanya?". "Segar", sahut
tamunya. ‘Apakah kamu merasakan
garam di dalam air itu?’, tanya Pak tua lagi. ‘Tidak’,
jawab si anak muda.
Dengan bijak, Pak tua itu menepuk-nepuk punggung
si anak muda. Ia lalu
mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di
samping telaga itu. "Anak muda,
dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya
segenggam garam, tak lebih dan
tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama dan
memang akan tetap sama."
"Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat
tergantung dari wadah yang kita
miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari
perasaan tempat kita meletakkan
segalanya. Itu semua akan tergantung hati kita.
Jadi, saat kamu merasakan
kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu
hal yang bisa kamu lakukan.
Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah
hatimu untuk menampung semua
kepahitan itu."
Pak tua itu kembali memberikan nasehat. "Hatimu adalah
wadah itu. Kalbumu adalah
tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan
hatimu itu seperti gelas,
buatlahlaksana telaga yang mampu meredam setiap
kepahitan itu dan merubahnya
menjadi kesegaran dan kebahagiaan. "
Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak.
Pada suatu pagi, datanglah
seorang anak muda yang sedang dirundung masalah.
Langkahnya gontai dan air
mukanya ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang
yang tak bahagia.
Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan
semua masalahnya. Pak Tua yang
bijak, hanya mendengarkanya dengan seksama. Ia lalu
mengambil segenggam garam,
dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air.
Ditaburkannya garam itu ke
dalam gelas, lalu diaduknya perlahan. "Coba, minum
ini, dan katakan bagaimana
rasanya?", ujar Pak tua itu. "Asin, asin
sekali," jawab sang tamu, sambil
meludah ke samping. Pak Tua itu, sedikit tersenyum.
Ia, lalu mengajak tamunya
ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan
dekat tempat tinggalnya.
Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan
akhirnya sampailah mereka ke tepi
telaga yang tenang itu. Pak tua itu, lalu kembali
menaburkan segenggam garam, ke
alam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya
gelombang dengan mengaduk-aduk
dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga
itu. "Coba, ambil air dari
telaga ini, dan minumlah." Saat tamu itu selesai
mereguk air, Pak tua berkata
lagi, "Bagaimana rasanya?". "Segar", sahut
tamunya. ‘Apakah kamu merasakan
garam di dalam air itu?’, tanya Pak tua lagi. ‘Tidak’,
jawab si anak muda.
Dengan bijak, Pak tua itu menepuk-nepuk punggung
si anak muda. Ia lalu
mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di
samping telaga itu. "Anak muda,
dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya
segenggam garam, tak lebih dan
tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama dan
memang akan tetap sama."
"Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat
tergantung dari wadah yang kita
miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari
perasaan tempat kita meletakkan
segalanya. Itu semua akan tergantung hati kita.
Jadi, saat kamu merasakan
kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu
hal yang bisa kamu lakukan.
Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah
hatimu untuk menampung semua
kepahitan itu."
Pak tua itu kembali memberikan nasehat. "Hatimu adalah
wadah itu. Kalbumu adalah
tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan
hatimu itu seperti gelas,
buatlahlaksana telaga yang mampu meredam setiap
kepahitan itu dan merubahnya
menjadi kesegaran dan kebahagiaan. "
Subscribe to:
Posts (Atom)